Dua Keping Kenangan
Karya : Rahmah Rahim
Seperti
biasa, sehabis dari kampus aku langsung menuju rumah. Hari ini kelas hanya
sampai jam setengah dua belas, lebih cepat dari biasanya. Hanya ada satu mata
kuliah di hari ini.
Aku
melangkah gontai ke luar kampus. Di pintu gerbang berdesak-desakan mahasiswi
yang hendak keluar melalui pintu yang sama. Udara yang panas terasa semakin
panas. Ughhh, andai saja pintu gerbang yang lainnya juga di buka, nggak akan
berdesak-desakan seperti ini, batinku.
“Hai
Cha, mau langsung pulang nih?” sapa Seli, teman satu fakultasku.
“Iya
Sel, emang kamu mau kemana?”
“Aku
mau ke Darrosah, nanti sore jadwal tahfidzku, jadi mau muroja’ah di masjid
Al-Azhar dulu.”
“Siip,
bittaufiq yaaa.”
“Amiin.
Aku duluan ya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Kami
berpisah satu sama lain. Seli memang terkenal sangat rajin. Di samping kuliah,
dia juga sering talaqqi. Punya jadwal tahfidz al-qur’an dua kali seminggu.
Aktif di organisasi induk mahasiwi di Mesir dan juga aktif di kelompok kajian
ekonomi islam. Entah bagaimana cara dia membagi waktunya. Aku yang hanya aktif
kuliah dan tahfidz saja kadang masih merasa sulit untuk membagi waktu dengan
talaqqi. Salut aku sama dia, semoga bisa ketularan dah rajinnya.
“Rob’ah?”
tanyaku pada seorang laki-laki yang berbadan gemuk namun tak terlalu tinggi.
“Aywah”
Yang ditanya langsung menyuruhku naik. Ia langsung mengemudikan tramco.
Ternyata aku penumpang yang ditunggu-tunggu agar tramco terisi penuh dan bisa
langsung meluncur pergi.
Sambil
merogoh saku tas, aku keluarkan uang receh nush geneh 2 buah. Keping
berwarna kuning itu hendak ku berikan pada orang disebelah ku. Agar dikumpulkan
dan diberikan kepada supir tramco.
Sebelum
sempat uang yang ku genggam sampai pada orang yang disamping, ada satu
kenyataan yang membuat jantungku berdegup sangat kencang. Darahku serasa
mengalir lebih cepat. Ya Allaaahhh, bagaimana ini?
==
Rasanya
hari ini berjalan dengan sangat cepat. Sehabis sholat subuh aku niatkan untuk
membaca. Buku ini harus tuntas dibaca, karena mau dikembalikan ke perpustakaan.
Terlembat sehari, alamat denda deh. Sayang euy duitnya.
Naman
apa daya. Si kantuk dari negeri kegelapan datang menyerang. Kelopak mata
perlahan menutup. Lalu tetiba sudah asyik berlayar di pulau kapuk.
“Astaghfirullah,
udah jam setengah sembilan.” Aku membelalakkan mata menatap layar ponsel.
“Syah,
aku kok ngga dibangunin sih. Kan kamu tau aku ada jadwal muhadhoroh pagi ini.
Di absen lagi.” dengan tergesa-gesa aku menyetrika baju, menyiapkan buku dan
merapikan tempat tidur dengan secepat kilat.
“Iya
maaf Cha. Aku nggak tega bangunin orang yang lagi tidur.” Begitu selesai
menyetrika, Aisyah sibuk dengan laptopnya.
Aisyah
meski jarang ke kampus, tapi dia bisa naik tingkat di setiap tahunnya. Talqaqi
juga nggak sering. Organisasi juga nggak aktif. Kok bisa ya? Kesehariannya
berkutat di depan laptop. Atau di balik lembaran buku. Belakangan hari aku baru
tahu, ia hobi menulis. Tulisannya di muat di media-media di Indonesia. Ia juga
sering mengikuti lomba kepenulisan dan bahkan cerpen dan puisinya sudah terbit
secara antologi. Katanya, ia sekarang sedang merampungkan naskah novel
perdananya. Aku yang sekamar dengannya, sering dapat motivasi menulis. Sedikit
demi sedikit aku belajar banyak darinya.
“Buku
sudah, peralatan tulis sudah, air minum sudah, kunci rumah sudah. Hmmm, apa
lagi ya?” aku menimang-nimang jika saja ada yang terlupa.
“Oh
iya uang. Yang katanya bukan segalanya. Tapi segalanya memerlukan uang.”
bergegas ku ambil receh di kotak di atas meja belajar. 4 keping uang nush
geneh kini sudah berada di saku tas. 2 keping untuk pergi, 2 keping untuk
pulang.
Aisyah
yang dari tadi asyik berkutat di depan laptop mendongakkan kepalanya, menatap
Icha dengan pandangan serius,
“Habis dari kampus langsung pulang ya Cha. Aku
mau masak gulai ayam. Kalau nggak buruan pulang entar habis, kamu nggak dapat
bagian.”
“Yeayyy.
Asyiiikkk. Biasanya aku juga langsung pulang ke rumah kok. Daaah, aku berangkat
dulu ya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
==
Jarak
antara rumahku dan kampus hanya 5 menit jika menggunakan tramco. Sangat dekat.
Bahkan bisa dengan berjalan kaki jika aku mau. Hanya memakan waktu 20 menit.
Aku belum pernah berjalan kaki ke kampus, walau hanya sekali. Padahal bikin
jantung sehat dan peredaran darah lancar. Hanya saja aku nggak mau keringatan
setiba di kampus dengan nafas tersengal-sengal. Ehm, alasan sebenarnya karena
aku malas, jauh. Heheee.
“Fiuhhh”
aku menghembus nafas lega. Ketika baru saja menginjakkan kaki di kelas, dosen
baru akan membuka muhadhoroh. Syukurlah, tidak terlambat.
Pelajaran
pertama telah selesai. Untuk pelajaran kedua, ada kabar kalau dukturoh tidak
hadir. Hatiku bersorak gembira. Terbayang gulai ayam buatan Aisyah. Aku harus
secepatnya pulang. Aku mau nyuci baju, mau nelfon ibu di Indonesia, mau nonton,
mau menuntaskan baca buku, dan sore harinya aku ke perpustakaan mengembalikan
buku. Sederet kegiatan yang akan dilakukan telah membayang di benakku.
==
Kini
aku sedang berada di dalam tramco yang akan membawaku ke rumah. Dengan ragu, ku
serahkan juga 2 keping logam berwarna kuning itu ke wanita yang duduk
disampingku.
Jantungku
dari tadi masih berdetak dengan kencang. Darah masih terasa mengalir dengan
sangat cepat. Tangan mendadak dingin. Tubuhku tegang. Bagaimana jika ketahuan?
Aku
beristighfar di dalam hati. Semakin memperbanyak istighfar. Aku baru menyadari
bahwa receh yang tersisa di dalam tas, satunya receh uang mesir nush geneh
dan satunya receh uang indonesia 500 rupiah. Bentuk dan warnanya sama. Bulat
dan berwarna kuning. Hanya tulisan saja yang membedakan diantara keduanya.
Ketika
tadi mengambilnya di kotak di atas meja belajar, aku tidak terlalu
memperhatikannya. Kotak itu khusus untuk uang receh. Dan aku lupa, kalau di
dalamnya juga bercampur uang receh rupiah Indonesia.
Tak
mungkin aku membayar hanya nush geneh, karena ongkosnya adalah satu geneh.
Beberapa menit yang lalu aku sudah berpasrah dan memutuskan untuk tetap membayar
dengan receh mesir dan Indonesia. Apapun yang terjadi nanti aku siap menerima
risikonya. Baik itu uangnya dikembalikan ataupun kemungkinan terburuk, aku di
turunkan di tengah jalan. Ya, apapun itu.
Si
sopir menerima uang yang diserahkan dari wanita yang duduk di sampingku. Jalanan
yang tidak terlalu ramai membuat si sopir sibuk untuk menyalip kendaraan yang
lainnya. Ia pun tidak terlalu memperhatikan secara rinci uang yang diserahkan
oleh penumpang.
Aku
mengitung setiap detik dengan istighfar, sambil menunggu apa reaksi dari si
sopir. Tampaknya, uang 500 rupiah itu telah berbaur dengan recehan lainnya. Aku
terselamatkan. Bahkan hingga ke pemberhentian akhir, tidak ada tanda-tanda
bahwa si sopir menyadari adanya uang asing di antara uang yang diterimanya dari
penumpang.
Sepanjang
langkah kaki menuju rumah, aku memohon ampun pada Allah atas ketidaksengajaan
ini. Bolehkah aku berdalih dengan keadaan darurat yang memaksaku untuk
melakukan itu? Di sisi lain, timbul rasa bersalahku pada si sopir tramco.
Semoga Allah mengampuni dosaku.
Sejak
saat itu, aku tak pernah lagi membawa uang pas-pasan. Aku selalu menyelipkan uang serap untuk
berjaga-jaga. Pengalaman ini, sungguh sangat berkesan ^^



Post a Comment