Dua Keping Kenangan.

Wednesday, 16 March 20160 comments























Dua Keping Kenangan
Karya : Rahmah Rahim

Seperti biasa, sehabis dari kampus aku langsung menuju rumah. Hari ini kelas hanya sampai jam setengah dua belas, lebih cepat dari biasanya. Hanya ada satu mata kuliah di hari ini.

Aku melangkah gontai ke luar kampus. Di pintu gerbang berdesak-desakan mahasiswi yang hendak keluar melalui pintu yang sama. Udara yang panas terasa semakin panas. Ughhh, andai saja pintu gerbang yang lainnya juga di buka, nggak akan berdesak-desakan seperti ini, batinku.

“Hai Cha, mau langsung pulang nih?” sapa Seli, teman satu fakultasku.
“Iya Sel, emang kamu mau kemana?”
“Aku mau ke Darrosah, nanti sore jadwal tahfidzku, jadi mau muroja’ah di masjid Al-Azhar dulu.”
“Siip, bittaufiq yaaa.”
“Amiin. Aku duluan ya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”

Kami berpisah satu sama lain. Seli memang terkenal sangat rajin. Di samping kuliah, dia juga sering talaqqi. Punya jadwal tahfidz al-qur’an dua kali seminggu. Aktif di organisasi induk mahasiwi di Mesir dan juga aktif di kelompok kajian ekonomi islam. Entah bagaimana cara dia membagi waktunya. Aku yang hanya aktif kuliah dan tahfidz saja kadang masih merasa sulit untuk membagi waktu dengan talaqqi. Salut aku sama dia, semoga bisa ketularan dah rajinnya.

“Rob’ah?” tanyaku pada seorang laki-laki yang berbadan gemuk namun tak terlalu tinggi.
“Aywah” Yang ditanya langsung menyuruhku naik. Ia langsung mengemudikan tramco. Ternyata aku penumpang yang ditunggu-tunggu agar tramco terisi penuh dan bisa langsung meluncur pergi.

Sambil merogoh saku tas, aku keluarkan uang receh nush geneh 2 buah. Keping berwarna kuning itu hendak ku berikan pada orang disebelah ku. Agar dikumpulkan dan diberikan kepada supir tramco.

Sebelum sempat uang yang ku genggam sampai pada orang yang disamping, ada satu kenyataan yang membuat jantungku berdegup sangat kencang. Darahku serasa mengalir lebih cepat. Ya Allaaahhh, bagaimana ini?

==

Rasanya hari ini berjalan dengan sangat cepat. Sehabis sholat subuh aku niatkan untuk membaca. Buku ini harus tuntas dibaca, karena mau dikembalikan ke perpustakaan. Terlembat sehari, alamat denda deh. Sayang euy duitnya.

Naman apa daya. Si kantuk dari negeri kegelapan datang menyerang. Kelopak mata perlahan menutup. Lalu tetiba sudah asyik berlayar di pulau kapuk.

“Astaghfirullah, udah jam setengah sembilan.” Aku membelalakkan mata menatap layar ponsel.
“Syah, aku kok ngga dibangunin sih. Kan kamu tau aku ada jadwal muhadhoroh pagi ini. Di absen lagi.” dengan tergesa-gesa aku menyetrika baju, menyiapkan buku dan merapikan tempat tidur dengan secepat kilat.
“Iya maaf Cha. Aku nggak tega bangunin orang yang lagi tidur.” Begitu selesai menyetrika, Aisyah sibuk dengan laptopnya.

Aisyah meski jarang ke kampus, tapi dia bisa naik tingkat di setiap tahunnya. Talqaqi juga nggak sering. Organisasi juga nggak aktif. Kok bisa ya? Kesehariannya berkutat di depan laptop. Atau di balik lembaran buku. Belakangan hari aku baru tahu, ia hobi menulis. Tulisannya di muat di media-media di Indonesia. Ia juga sering mengikuti lomba kepenulisan dan bahkan cerpen dan puisinya sudah terbit secara antologi. Katanya, ia sekarang sedang merampungkan naskah novel perdananya. Aku yang sekamar dengannya, sering dapat motivasi menulis. Sedikit demi sedikit aku belajar banyak darinya.

“Buku sudah, peralatan tulis sudah, air minum sudah, kunci rumah sudah. Hmmm, apa lagi ya?” aku menimang-nimang jika saja ada yang terlupa.
“Oh iya uang. Yang katanya bukan segalanya. Tapi segalanya memerlukan uang.” bergegas ku ambil receh di kotak di atas meja belajar. 4 keping uang nush geneh kini sudah berada di saku tas. 2 keping untuk pergi, 2 keping untuk pulang.

Aisyah yang dari tadi asyik berkutat di depan laptop mendongakkan kepalanya, menatap Icha dengan pandangan serius, 
“Habis dari kampus langsung pulang ya Cha. Aku mau masak gulai ayam. Kalau nggak buruan pulang entar habis, kamu nggak dapat bagian.”
“Yeayyy. Asyiiikkk. Biasanya aku juga langsung pulang ke rumah kok. Daaah, aku berangkat dulu ya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”

==

Jarak antara rumahku dan kampus hanya 5 menit jika menggunakan tramco. Sangat dekat. Bahkan bisa dengan berjalan kaki jika aku mau. Hanya memakan waktu 20 menit. Aku belum pernah berjalan kaki ke kampus, walau hanya sekali. Padahal bikin jantung sehat dan peredaran darah lancar. Hanya saja aku nggak mau keringatan setiba di kampus dengan nafas tersengal-sengal. Ehm, alasan sebenarnya karena aku malas, jauh. Heheee.

“Fiuhhh” aku menghembus nafas lega. Ketika baru saja menginjakkan kaki di kelas, dosen baru akan membuka muhadhoroh. Syukurlah, tidak terlambat.

Pelajaran pertama telah selesai. Untuk pelajaran kedua, ada kabar kalau dukturoh tidak hadir. Hatiku bersorak gembira. Terbayang gulai ayam buatan Aisyah. Aku harus secepatnya pulang. Aku mau nyuci baju, mau nelfon ibu di Indonesia, mau nonton, mau menuntaskan baca buku, dan sore harinya aku ke perpustakaan mengembalikan buku. Sederet kegiatan yang akan dilakukan telah membayang di benakku.

==

Kini aku sedang berada di dalam tramco yang akan membawaku ke rumah. Dengan ragu, ku serahkan juga 2 keping logam berwarna kuning itu ke wanita yang duduk disampingku.

Jantungku dari tadi masih berdetak dengan kencang. Darah masih terasa mengalir dengan sangat cepat. Tangan mendadak dingin. Tubuhku tegang. Bagaimana jika ketahuan?

Aku beristighfar di dalam hati. Semakin memperbanyak istighfar. Aku baru menyadari bahwa receh yang tersisa di dalam tas, satunya receh uang mesir nush geneh dan satunya receh uang indonesia 500 rupiah. Bentuk dan warnanya sama. Bulat dan berwarna kuning. Hanya tulisan saja yang membedakan diantara keduanya.

Ketika tadi mengambilnya di kotak di atas meja belajar, aku tidak terlalu memperhatikannya. Kotak itu khusus untuk uang receh. Dan aku lupa, kalau di dalamnya juga bercampur uang receh rupiah Indonesia.

Tak mungkin aku membayar hanya nush geneh, karena ongkosnya adalah satu geneh. Beberapa menit yang lalu aku sudah berpasrah dan memutuskan untuk tetap membayar dengan receh mesir dan Indonesia. Apapun yang terjadi nanti aku siap menerima risikonya. Baik itu uangnya dikembalikan ataupun kemungkinan terburuk, aku di turunkan di tengah jalan. Ya, apapun itu.

Si sopir menerima uang yang diserahkan dari wanita yang duduk di sampingku. Jalanan yang tidak terlalu ramai membuat si sopir sibuk untuk menyalip kendaraan yang lainnya. Ia pun tidak terlalu memperhatikan secara rinci uang yang diserahkan oleh penumpang.

Aku mengitung setiap detik dengan istighfar, sambil menunggu apa reaksi dari si sopir. Tampaknya, uang 500 rupiah itu telah berbaur dengan recehan lainnya. Aku terselamatkan. Bahkan hingga ke pemberhentian akhir, tidak ada tanda-tanda bahwa si sopir menyadari adanya uang asing di antara uang yang diterimanya dari penumpang.

Sepanjang langkah kaki menuju rumah, aku memohon ampun pada Allah atas ketidaksengajaan ini. Bolehkah aku berdalih dengan keadaan darurat yang memaksaku untuk melakukan itu? Di sisi lain, timbul rasa bersalahku pada si sopir tramco. Semoga Allah mengampuni dosaku.

Sejak saat itu, aku tak pernah lagi membawa uang pas-pasan. Aku  selalu menyelipkan uang serap untuk berjaga-jaga. Pengalaman ini, sungguh sangat berkesan ^^
























Share this article :

Post a Comment

 
Support : el-Azizy | Forsilam Mesir | Blog
Copyright © 2011. Forsilam Mesir - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Amar
Proudly powered by Blogger